Rabu, 04 September 2013
kitab-kuneng: Hadits tidur siang pada bulan Ramadhan
kitab-kuneng: Hadits tidur siang pada bulan Ramadhan: Hadits ini sering dijadikan alasan bagi orang-orang yang suka tidur pada waktu siang Ramadhan dengan berargumentasi sebagai ibadah. Bunyi ...
kitab-kuneng: Imam Mahdi
kitab-kuneng: Imam Mahdi: Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah mengi’tiqadkan bahwa Imam Mahdi akan muncul kelak pada akhir zaman. Di bawah ini keterangan para ulama mengen...
kitab-kuneng: Ya’juj wa Ma’juj
kitab-kuneng: Ya’juj wa Ma’juj: Kaum Ahlussunnnah wal Jama’ah mengi’tiqadkan bahwa Ya’juj dan Ma’juj adalah dua kaum yang akan muncul pada saat mendekati hari kiamat na...
Jumat, 23 Agustus 2013
Fonologi
Tugas
Kelompok Mata Kuliah Semester II
A. FONOLOGI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan
bahwa fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi – bunyi
bahasa menurut fungsinya. Dengan demikian fonologi adalah merupakan sistem
bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatakan bahwa fonologi adalah
ilmu tentang bunyi bahasa.
Fonologi dalam tataran ilmu bahasa dibagi dua bagian,
yakni:
1. Fonetik
Fonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi – bunyi
bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia, serta bagaimana bunyi itu dihasilkan.
Macam –macam fonetik :
a. fonetik artikulatoris yang mempelajari posisi dan
gerakan bibir, lidah dan organ-organ manusia lainnya yang memproduksi suara
atau bunyi bahasa
b. fonetik akustik yang mempelajari gelombang suara
dan bagaimana mereka didengarkan oleh telinga manusia
c. fonetik auditori yang mempelajari persepsi bunyi
dan terutama bagaimana otak mengolah
data yang masuk sebagai suara
2. Fonemik
Fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi – bunyi
bahasa yang berfungsi sebagai pembeda makna.
Jika dalam fonetik kita mempelajari segala macam bunyi
yang dapat dihasilkan oleh alat-alat ucap serta bagaimana tiap-tiap bunyi itu
dilaksanakan, maka dalam fonemik kita mempelajari dan menyelidiki
kemungkinan-kemungkinan, bunyi-ujaran yang manakah yang dapat mempunyai fungsi
untuk membedakan arti.
B. FONEM
Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang
bersifat fungsional, artinya satuan memiliki fungsi untuk membedakan makna.
Fonem tidak dapat berdiri sendiri karena belum mengandung arti.
Fonemisasi adalah usaha untuk menemukan bunyi-bunyi
yang berfungsi dalam rangka pembedaan makna tersebut.
Fonem sebuah istilah linguistik dan
merupakan satuan terkecil dalam sebuah bahasa yang masih bisa menunjukkan perbedaan makna. Fonem
berbentuk bunyi.Misalkan dalam bahasa Indonesia bunyi [k]
dan [g] merupakan dua fonem yang berbeda, misalkan dalam kata "cagar"
dan "cakar". Tetapi dalam bahasa Arab hal ini
tidaklah begitu. Dalam bahasa Arab hanya ada fonem /k/.
Sebaliknya dalam bahasa Indonesia bunyi [f],
[v] dan [p] pada dasarnya bukanlah tiga fonem yang berbeda. Kata provinsi apabila
dilafazkan sebagai [propinsi], [profinsi] atau [provinsi] tetap sama saja.
Fonem tidak memiliki makna, tapi peranannya dalam
bahasa sangat penting karena fonem dapat membedakan makna. Misalnya saja fonem
[l] dengan [r]. Jika kedua fonem tersebut berdiri sendiri, pastilah kita tidak
akan menangkap makna. Akan tetapi lain halnya jika kedua fonem tersebut kita
gabungkan dengan fonem lainnya seperti [m], [a], dan [h], maka fonem [l] dan
[r] bisa membentuk makna /marah/ dan /malah/. Bagi orang Jepang kata marah dan
malah mungkin mereka anggap sama karena dalam bahasa mereka tidak ada fonem
[l].
Terjadinya perbedaan makna hanya karena pemakaian
fonem /b/ dan /p/ pada kata tersebut. Contoh lain: mari, lari, dari,
tari, sari, jika satu unsur diganti dengan unsur lain maka akan membawa
akibat yang besar yakni perubahan arti.
MORFOLOGI
Adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi
satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal
Morfologi mempelajari seluk beluk bentuk serta fungsi perubahan-perubahan
bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik
Jenis-jenis Morfem
Berdasarkan criteria tertentu, kita dapat mengklasifikasikan morfem menjadi
berjenis-jenis. Penjenisan ini dapat ditinjau dari dua segi yakni hubungannya
dan distribusinya (Samsuri, 1982:186; Prawirasumantri, 1985:139). Agar lebih
jelas, berikut ini sariannya.
1)
Ditinjau dari Hubungannya
Pengklasifikasian morfem dari segi hubungannya, masih dapat kita lihat dari
hubungan struktural dan hubungan posisi.
a)
Ditinjau dari Hubungan Struktur
Menurut hubungan strukturnya, morfem dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu
morfem bersifat aditif (tambahan) yang bersifat replasif
(penggantian), dan yang bersifat substraktif (pengurangan).
Morfem yang bersifat aditif yaitu morfem-morfem yang biasa yang pada umumnya
terdapat pada semua bahasa, seperti pada urutan putra, tunggal, -nya, sakit.
Unsur-unsur morfem tersebut tidak lain penambahan yang satu dengan yang lain.
Morfem yang bersifat replasif yaitu morfem-morfem berubah bentuk atau berganti
bentuk dari morfem asalnya. Perubahan bentuk itu mungkin disebabkan oleh
perubahan waktu atau perubahan jumlah. Contoh morfem replasif ini terdapat
dalam bahasa Inggris. Untuk menyatakan jamak, biasanya dipergunakan banyak
alomorf. Bentuk-bentuk /fiyt/, /mays/, /mεn/ masing-masing merupakan dua morfem
/f…t/, /m…s/, /m…n/ dan /iy ← u/, /ay ← aw/, /ε/, /æ/. Bentuk-bentuk yang
pertama dapat diartikan masing-masing ‘kaki’, ‘tikus’, dan ‘orang’, sedangkan
bentuk-bentuk yang kedua merupakan alomorf-alomorf jamak. Bentuk-bentuk yang
kedua inilah yang merupakan morfem-morfem atau lebih tepatnya alomorf-alomorf
yang bersifat penggantian itu, karena /u/ diganti oleh /iy/ pada kata foot
dan feet, /aw/ diganti oleh /ay/ pada kata mouse dan mice,
dan /æ/ diganti oleh / ε/ pada kata man dan men.
Morfem bersifat substraktif, misalnya terdapat dalam bahasa Perancis. Dalam
bahasa ini, terdapat bentuk ajektif yang dikenakan pada bentuk betina
dan jantan secara ketatabahasaan. Perhatikanlah bentuk-bentuk berikut !
|
Betina
/mov εs/
/fos/
/bon/
/sod/
/ptit/
|
Jantan
/mov ε/
/fo/
/bo/
/so/
/pti/
|
Arti
buruk
palsu
baik
panas
kecil
|
Bentuk-bentuk yang ‘bersifat jantan’ adalah ‘bentuk
betina’ yang dikurangi konsonan akhir. Jadi dapat dikatakan bahwa pengurangan
konsonan akhir itu merupakan morfem jantan.
b)
Ditinjau dari Hubungan Posisi
Dilihat dari hubungan posisinya, morfem pun dapat dibagi menjadi tiga macam
yakni ; morfem yang bersifat urutan, sisipan, dan simultan.
Tiga jenis morfem ini akan jelas bila diterangkan dengan memakai morfem-morfem
imbuhan dan morfem lainnya.
Contoh morfem yang bersifat urutan terdapat pada kata berpakaian
yaitu / ber-/+/-an/. Ketiga morfem itu bersifat berurutan yakni yang satu
terdapat sesudah yang lainnya.
Contoh morfem yang bersifat sisipan dapat dilihat
dari kata / telunjuk/. Bentuk tunjuk merupakan bentuk kata bahasa
Indonesia di samping telunjuk. Kalau diuraikan maka akan menjadi /
t…unjuk/+/-e1-/.
Morfem simultan atau disebut pula morfem tidak
langsung terdapat pada kata-kata seperti /k∂hujanan/. /k∂siaηgan/ dan
sebagainya. Bentuk /k∂hujanan/ terdiri dari /k∂…an/ dan /hujan/, sedang
/kesiangan/ terdiri dari /ke…an/ dan /siaη/. Bentuk /k∂-an/ dalam bahasa
Indonesia merupakan morfem simultan, terbukti karena bahasa Indonesia tidak
mengenal bentuk /k∂hujan/ atau /hujanan/ maupun /k∂siaη/ atau /sianaη/. Morfem
simultan itu sering disebut morfem kontinu ( discontinous morpheme ).
2)
Ditinjau dari Distribusinya
Ditinjau dari distribusinya, morem dapat dibagi menjadi dua macam yaitu morfem
bebas dan morem ikat. Morfem bebas ialah morfem yang dapat berdiri
dalam tuturan biasa , atau morfem yang dapat berfungsi sebagai kata, misalnya :
bunga, cinta, sawah, kerbau. Morfem ikat yaitu morfem yang tidak dapat
berdiri sendiri dalam tuturan biasa, misalnya : di-, ke-, -i, se-, ke-an.
Disamping itu ada bentuk lain seperti juang, gurau, yang selalu disertai
oleh salah satu imbuhan baru dapat digunakan dalam komunikasi yang wajar.
Samsuri ( 1982:188 )menamakan bentuk-bentuk seperti bunga, cinta, sawah,
dan kerbau dengan istilah akar; bentuk-bentukseperti di-,ke-,
-i, se-, ke-an dengan nama afiks atau imbuhan; dan juang,
gurau dengan istilah pokok. Sementara itu Verhaar
(1984:53)berturut-turut dengan istilah dasar afiks atau imbuhan
dan akar. Selain itu ada satu bentuk lagi seperti belia, renta, siur
yang masing-masing hanya mau melekat pada bentuk muda, tua, dan simpang,
tidak bisa dilekatkan pada bentuk lain. Bentuk seperti itu dinamakan morfem
unik.
SINTAKSIS
Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani,
yaitu sun yang berarti “dengan” dan kata tattein yang berarti
“menempatkan”. Jadi, secara etimologi berarti: menempatkan bersama-sama
kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat.
STRUKTUR SINTAKSIS
Secara umum struktur sintaksis terdiri dari susunan subjek
(S), predikat (P), objek (O), dan keterangan (K) yang berkenaan
dengan fungsi sintaksis. Nomina, verba, ajektifa, dan
numeralia berkenaan dengan kategori sintaksis. Sedangkan pelaku,
penderita, dan penerima berkenaan dengan peran sintaksis.
Eksistensi struktur sintaksis terkecil ditopang
oleh urutan kata, bentuk kata, dan intonasi; bisa juga ditambah
dengan konektor yang biasanya disebut konjungsi. Peran ketiga alat
sintaksis itu tidak sama antara bahasa yang satu dengan yang lain.
KATA SEBAGAI
SATUAN SINTAKSIS
Sebagai satuan terkecil dalam sintaksis, kata
berperan sebagai pengisi fungsi sintaksis, penanda kategori sintaksis, dan
perangkai dalam penyatuan satuan-satuan atau bagian-bagian dari satuan
sintaksis.
Kata sebagai pengisi satuan sintaksis, harus dibedakan
adanya dua macam kata yaitu kata penuh dan kata tugas. Kata penuh adalah
kata yang secara leksikal mempunyai makna, mempunyai kemungkinan untuk
mengalami proses morfologi, merupakan kelas terbuka, dan dapat berdiri sendiri
sebagai sebuah satuan. Yang termasuk kata penuh adalah kata-kata kategori
nomina, verba, adjektiva, adverbia, dan numeralia.
Kata tugas adalah kata yang secara leksikal tidak
mempunyai makna, tidak mengalami proses morfologi, merupakan kelas tertutup,
dan di dalam peraturan dia tidak dapat berdiri sendiri. Yang termasuk kata
tugas adalah kata-kata kategori preposisi dan konjungsi
FRASE
Frase lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata
yang bersifat nonpredikatif (hubungan antara kedua unsur yang membentuk frase
tidak berstruktur subjek - predikat atau predikat - objek), atau lazim juga
disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam
kalimat.
KLAUSA
Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata
berkonstruksi predikatif. Artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen, berupa
kata atau frase, yang berungsi sebagai predikat; dan yang lain berfungsi
sebagai subjek, objek, dan keterangan
KALIMAT
Dengan mengaitkan peran kalimat sebagai alat interaksi dan kelengkapan pesan
atau isi yang akan disampaikan, kalimat didefinisikan sebagai “ Susunan
kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap ”. Sedangkan dalam kaitannya
dengan satuan-satuan sintaksis yang lebih kecil (kata, frase, dan klausa) bahwa
kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang
biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan, serta
disertai dengan intonasi final.
DAFTAR PUSTAKA
Hasan Alwi dkk. 2003. Tata Bahasa Baku bahasa
Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Kajian
Bahasa Indonesia di SD. Jakarta : Balai Pustaka.
http://id.wikipedia.org/fonologi/bahasa_indonesia. diunduh
pada tanggal 4 Maret 2010
http://esteemje.blogspot.com/2007/12/fonem-bahasa-indonesia-html. diunduh
pada tanggal 4 Maret 2010
http://mallcom.wordpress.com/2007/08/01/belajar_fonologi_indonesia. diunduh
pada tanggal 4 Maret 2010
Langganan:
Komentar (Atom)